Monday, November 12, 2012

Pengajaran Bahasa Komunikatif (Communicative Language Teaching) dan Total Physical Response





Disusun oleh:
Feisal Aziez
M. Zakky Fathoni



PROGRAM STUDI LINGUISTIK TERAPAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012


PENDAHULUAN

Pengajaran Bahasa Komunikatif (Communicative Language Teaching)
Pada tahun 1960-an, tradisi pengajaran bahasa mengalami perubahan-perubahan yang cukup mendasar. Perubahan- perubahan ini terutama dipicu oleh asumsi-asumsi baru tentang hakikat pembelajaran bahasa, yang secara mendasar mengingkari asumsi-asumsi yang berlaku saat itu. Pada saat teori linguistik yang mendasari pendekatan audiolingual ditolak di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, para pakar linguistik terapan Inggris seperti Howatt (1984: 280, dalam Aziez & Alwasilah, 1996:1) dan bahkan Noam Chomsky juga mulai mempertanyakan ke-efektifitas-an teori-teori yang mendasari Situational Language Teaching dan metode tatabahasa-terjemahan. Communicative Language Teaching atau Pengajaran Bahasa Komunikatif (PBK) muncul sebagai alternatif Situational Language Teaching dan metode tatabahasa-terjemahan yang teori dasarnya oleh Chomsky (1957) dianggap tidak mampu menjelaskan karakteristik bahasa yang fundamental—keunikan dan kreativitas setiap kalimat. Pendekatan pengajaran bahasa yang berkembang saat itu dianggap belum meliputi dimensi bahasa yang mendasar—yaitu dimensi fungsional dan komunikatif. Nunan (1989: 12) menggambarkan perubahan ini sebagai perubahan dari ‘learning that’ menjadi ‘knowing how’. Di Indonesia sendiri, PBK baru dikenal pada era tahun 1980-an, padahal perkembangannya di negara lain sudah relatif  lama (Iskandarwassid & Sunendar, 2008).

Respons Fisik Total (Total Physical Response)
Total Physical Response (TPR) adalah salah satu metode pengajaran bahasa yang dibangun dari koordinasi percakapan dan tindakan. Metode ini mencoba mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik. Metode ini dikembangkan oleh James Asher, seorang profesor dari bidang psikologi di Universitas Negeri San Jose, di California pada tahun 1970. Namun sekitar 1 dekade sebelum itu Asher sudah mulai melakukan penelitian dan eksperimen tentang metode ini, dikarenakan belum banyak ahli yang meneliti dan mengembangkan metode TPR ini. Setelah Asher melakukan eksperimen tentang metode ini dan mulai menemukan hasil positif, maka banyak para ahli bahasa yang tertarik untuk meneliti dan melakukan eksperimen menggunakan metode ini. (Richards & Rodger, 2001: 73)

PEMBAHASAN
PENGAJARAN BAHASA KOMUNIKATIF

Ilustrasi Pembelajaran Bahasa Komunikatif

a.      Pengertian Pengajaran Bahasa Komunikatif
Awalnya, muncul pertanyaan dalam mengkategorisasikan Pengajaran Bahasa Komunikatif—apakah ia termasuk ke dalam metode atau pendekatan? Brown (2007: 241) menyatakan bahwa PBK sebaiknya dipahami sebagai pendekatan, bukan metode. Pendapat ini juga didukung oleh Richards & Rodgers (2001: 172), Littlewood (1987), Larsen-Freeman (1987: 123), Nunan (1989:12), Aziez & Alwasilah (1996), dan Iskandarwassid & Sunendar (2008: 55). Hal ini dikarenakan PBK adalah sebuah pendirian teoretis terpadu (unified) tetapi memiliki basis luas tentang watak bahasa (the nature of language) dan tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa (Brown, 2007: 241).
Sejumlah definisi PBK yang muncul terdahulu (Savignon, 1983; Breen & Candlin, 1980; Widdowson, 1978b, dalam Brown, 2007: 241) ataupun yang terbaru (Savignon, 2005; Ellis, 2005; Nunan; 2004, dalam Brown, 2007: 241) telah cukup untuk membingungkan kita. Di Indonesia, para ahli bahasa juga banyak menghabiskan waktu untuk memperdebatkan definisi dari pendekatan ini (Iskandarwassid & Sunendar, 2008: 55). Oleh karena itu, Brown (2007: 241) memberikan empat karakteristik yang terkait sebagai definisi PBK:
1.      Sasaran kelas difokuskan pada semua komponen kompetensi komunikatif  (communicative competence)[1] dan tidak terbatas pada kompetensi gramatikal atau linguistik.
2.      Teknik-teknik bahasa dirancang untuk melibatkan para pembelajar dalam penggunaan pragmatik, otentik, dan fungsional bahasa untuk tujuan bermakna. Bentuk-bentuk bahasa yang tertata rapi bukan merupakan fokus sentral melainkan aspek-aspek bahasa yang membantu pembelajar mewujudkan tujuan-tujuan komunikatif.
3.      Kefasihan dan akurasi dipandang sebagai prinsip-prinsip pelengkap saja yang mendasari teknik-teknik komunikatif. Terkadang kefasihan harus dikedepankan daripada akurasi untuk membuat pembelajar tetap terlibat secara bermakna dalam penggunaan bahasa.
4.      Dalam kelas komunikatif, para murid pada akhirnya harus menggunakan bahasa secara produktif dan reseptif, dalam konteks spontan.
            Kurikulum yang bertopang pada kaidah struktural/gramatikal telah mendominasi pengajaran bahasa selama berabad-abad. PBK sendiri menyarankan bahwa struktur gramatikal sebaiknya disisipkan ke dalam berbagai kategori fungsional. Banyak penggunaan bahasa-bahasa otentik disiratkan dalam CLT, ketika guru berusaha membangun kefasihan siswa (Chambers, 1997, dalam Brown, 2007). Akan tetapi perlu diingat bahwa kefasihan disini tidak didorong dengan mengorbankan komunikasi langsung yang jelas dan tidak ambigu. Akhirnya, akan ada lebih banyak spontanitas yang muncul dalam kelas komunikatif: para murid didorong untuk menghadapi situasi-situasi yang spontan di bawah bimbingan, bukan kontrol,  guru.

b.      Tujuan Kelas Komunikatif
Littlewood (1987:17) merangkum tujuan pembelajaran dalam kelas komunikatif menjadi empat:
1.      Menyediakan latihan tugas-menyeluruh (whole-task practice)
Dalam kelas komunikatif, penting untuk membedakan antara (a) melatih skill tersendiri (part skill), dan (b) melatih skill secara keseluruhan atau disebut whole task practice. Ketika kita belajar berenang, terkadang kita belajar kemampuan tertentu secara terpisah (menahan nafas, melompat ke air, dll) namun kita juga terkadang dituntut untuk langsung berenang jarak dekat. Dalam pembelajaran bahasa, aktivitas kelas komunikatif disusun untuk sesuai dengan kemampuan pembelajar.
2.      Mendorong motivasi pembelajar
Tujuan utama pembelajar bahasa adalah untuk mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang lain dalam bahasa yang dipelajari. Terlebih lagi, konsepsi umum pembelajar bahasa adalah bahasa sebagai alat komunikasi bukan suatu sistem struktural. Jika demikian, maka kesuksesan proses belajar siswa akan lebih memungkinkan untuk dicapai.
3.      Menyediakan pembelajaran natural (natural learning)
Pembelajaran bahasa terjadi dalam diri siswa. Sebagai guru kita mengerti ke-frustasi-an mereka dalam belajar bahasa. Terkadang, beberapa aspek bahasa berada di luar kontrol pedagogis mereka. Aspek-aspek dalam pembelajaran bahasa ini hanya mampu didapatkan melalui proses natural, yaitu penggunaan bahasa untuk tujuan komunikatif.
4.      Menciptakan konteks yang mendukung pembelajaran
Interaksi yang terjadi dalam aktivitas komunikatif membantu menciptakan hubungan personal yang positif antara murid-murid maupun murid-guru. Hubungan ini membuat kelas menjadi lebih ‘manusiawi’sehingga menciptakan lingkungan yang supportive terhadap usaha siswa untuk belajar bahasa.

c.       Peran Guru dan Siswa dalam Kelas PBK
Guru dalam PBK menurut Richards dan Rodgers (2001) memiliki dua peran utama: (a) memfasilitasi komunikasi yang terjadi antara murid dengan murid, maupun murid dengan aktivitas atau teks yang diberikan, dan (b) menjadi partisipan independen dalam aktivitas yang terjadi di kelas. Peran guru yang lain menurut mereka adalah sebagai analis kebutuhan siswa, konselor, dan pengelola proses kelompok (group process manager). Siswa, diatas apapun, adalah komunikator (Larsen-Freeman, 2001). Mereka mencoba untuk bertukar makna—mencoba dipahami dan memahami orang lain—walaupun pengetahuan mereka dalam bahasa yang dipelajari masih belum lengkap.

d.      Prosedur dan Materi Pengajaran
Berikut ini adalah contoh prosedur pengajaran bahasa komunikatif dalam kelas Bahasa Inggris yang diberikan oleh Finocchiaro dan Brumfit (dalam Richards & Rodgers, 2001):
1.      Pemberian dialog atau mini dialog yang diawali oleh motivasi dari guru diikuti oleh diskusi mengenai dialog yang diberikan (topik, dialog, ke-formal-an dll).
2.      Latihan lisan ungkapan-ungkapan (utterances) yang ada dalam dialog yang dicontohkan oleh guru.
3.      Tanya jawab mengenai topik dan situasi dialog.
4.      Tanya jawab mengenai pengalaman siswa mengenai topik/ situasi dalam dialog.
5.      Mempelajari ekspresi-ekpresi inti dalam dialog dan fungsinya memberi contoh ungkapan serupa dalam kehidupan nyata.
6.      Siswa menemukan generalisasi atau aturan-aturan sktruktural dari ungkapan-ungkapan dalam dialog.
7.      Pengenalan lisan, aktivitas interpretatif.
8.      Aktivitas produksi lisan—bertahap dari guided activities sampai freer activities.
9.      Sampling dari tugas tertulis, jika ada.
10.  Evaluasi lisan mengenai materi yang dipelajari, contoh “How would you ask your friend to_____?” dan “How would you ask me to_____?”
Materi yang digunakan dalam kelas PBK misalnya: materi otentik, scrambled sentences, information gap, permainan bahasa, cerita bergambar, dan role play.

TOTAL PHYSICAL RESPONSE

Ilustrasi TPR

Penyusun metode Respons Fisik Total atau Total Physical Response (TPR), James Asher, mencatat bahwa anak-anak, saat belajar bahasa pertama mereka, terlihat banyak mendengar sebelum mereka berbicara, dan bahwa kegiatan mendengar itu disertai oleh respons-respons fisik seperti meraih, meraba, bergerak, melihat, dan lain-lain. Asher juga memberikan perhatian kepada pembelajaran otak kanan. Menurut Asher (melalui Brown, 2007: 84) “aktivitas motor adalah fungsi otak kanan yang pastilah mendahului pemrosesan bahasa oleh otak kiri”. Hal ini pula yang membuat Asher yakin bahwa seringkali kelas-kelas bahasa adalah tempat yang luar biasa mencemaskan dan membuat ia berkeinginan untuk membuat dan mengembangkan sebuah metode yang sebisa mungkin bebas stress, di mana para pembelajar bahasa tidak akan merasa canggung dan defensif. Oleh karena itu kelas TPR yang dikembangkan oleh Asher adalah sebuah kelas di mana para murid banyak mendengar dan bertindak. Sang guru mengarahkan dalam mengorkestrasi sebuah performa: “Instruktur adalah sutradara sebuah lakon sandiwara di mana para murid adalah aktornya” (Asher, 1977: 43).
Pada saat ini TPR banyak dipakai sebagai jenis aktivitas kelas. Banyak kelas komunikatif dan interaktif yang berhasil memanfaatkan aktivitas-aktivitas TPR untuk menghadirkan masukan auditoris maupun aktivitas fisik. Target pembelajar yang menggunakan metode TPR adalah anak-anak, hal ini dikarenakan konsep dari metode TPR adalah merespon instruksi yang bentuknya adalah berupa kalimat perintah dengan respons fisik secara langsung, yang bila diterapkan kepada pembelajar bahasa yang sudah dewasa hasilnya tidak efektif.

a.      Tujuan Total Physical Response (TPR)
Metode TPR bagi guru, bertujuan agar tercipta suasana yang nyaman sehingga siswa dapat menikmati pembelajaran dan dapat belajar untuk berkomunikasi menggunakan bahasa asing dengan baik. Hal ini dikarenakan pada dasarnya metode TPR ini dikembangkan untuk mengurangi tekanan bagi siswa di dalam kelas, dan membuat suasana kelas menyenangkan. (Larson-Freeman, 1986: 116)

b.      Peran Guru dan Siswa
Guru memegang peran sebagai sutradara, sedangkan para siswa bertindak sebagai artisnya. Jadi dalam metode TPR ini peran guru amatlah penting, karena guru yang mengatur semua yang ada di dalam kelas. Guru memberikan perintah pada siswa, yang sejatinya perintah itu adalah bagian dari metode TPR, kemudian siswa diminta untuk merespon instruksi-instruksi berupa kalimat-kalimat perintah dari guru dengan melakukan tindakan (respons fisik). Peran siswa di sini tidak terlalu penting karena gurulah yang memegang kontrol. (Larson-Freeman, 1986: 116)

c.       Karakteristik Proses Pengajaran dan Pembelajaran
Larson-Freeman (1986: 116) menyatakan bahwa pada tahap pertama metode TPR, guru bertindak sebagai model atau contoh. Guru dapat memberikan instruksi pada beberapa siswa dan kemudian mencontohkan atau mempraktekkannya di hadapan siswa agar para siswa dapat memahami intruksi yang diberikan dan dapat mengikuti. Pada tahap kedua para siswa dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pahami dari perintah-perintah yang tadi sudah diberikan dengan teman-temannya sendiri. Kemudian sampai pada tahap ketika para siswa sudah mengerti, memahami serta dapat merespon perintah-perintah dengan respon fisik, para siswa dapat belajar lebih jauh untuk membaca dan menuliskannya. Hingga pada saatnya para siswa sudah siap untuk berbicara, mereka bisa menjadi orang yang memberikan instruksi atau perintah.

d.      Teknik-teknik yang digunakan dalam metode TPR
1.      Penggunaan kalimat-kalimat perintah untuk mengarahkan tindakan
Teknik ini adalah teknik yang paling sering digunakan. Kalimat-kalimat perintah diberikan pada siswa agar siswa dapat merespon dengan tindakan. Tindakan yang dilakukan membuat maknanya menjadi jelas. Asher menyarankan para guru agar dapat membuat suasana kelas menjadi hidup, oleh karena itu guru harus mempersiapkan kalimat-kalimat perintah yang akan digunakan di dalam kelas. Persiapan itu akan membuat kelas menjadi teratur dan hidup. Namun jika guru mencoba untuk membuat kalimat perintah pada saat di dalam kelas tanpa persiapan, hal itu akan membuat kelas berjalan lambat dan membosankan. (Larson-Freeman, 1986: 118)
2.      Pergantian peran
Siswa dapat berganti peran dengan guru untuk memberikan kalimat-kalimat perintah kepada siswa-siswa lainnya. Asher menyatakan bahwa dalam 10-12 jam penggunaan TPR, maka siswa akan tertarik untuk memberikan perintah juga, hal ini dapat membuat siswa berani berbicara. Teknik ini adalah variasi atau penambahan dari teknik sebelumnya, karena teknik ini bukan lah teknik mayor dari metode TPR. (Larson-Freeman, 1986: 119)
3.      Tindakan yang saling berhubungan
Pada suatu waktu guru juga dapat memberikan kalimat-kalimat perintah yang saling berhubungan. Misalkan guru menyuruh siswa untuk menunjuk ke pintu, kemudian memberikan perintah untuk berjalan menuju pintu dan kemudian diberikan perintah untuk menyentuh pintu. Hal ini akan membantu siswa untuk dapat mengingat dan belajar lebih banyak. (Larson-Freeman, 1986: 119)


KESIMPULAN
Pengajaran Bahasa Komunikatif
Pengajaran Bahasa Komunikatif atau Communicative Language Teaching paling baik dipahami sebagai pendekatan daripada metode. Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa PBK memiliki kemiripan dengan situational language teaching atau grammar-translation. Hal itu disebabkan karena PBK tidak menolak pendekatan-pendekatan tradisional, akan tetapi diinterpretasi ulang (reinterpreted) dan dikembangkan. Karakteristik CLT sering menyulitkan guru bukan penutur asli yang tidak cakap betul dalam bahasa yang diajarkan untuk mengajar dengan efektif. Kelemahan ini, bagaimanapun, jangan menghalangi orang untuk mencapai tujuan-tujuan komunikatif di kelas. Teknologi (video, televisi, kaset audio, internet, software komputer) bisa membantu guru untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Apalagi, menurut pengamatan Brown (2007: 242), ada peningkatan yang cukup signifikan pada kecakapan pada guru-guru bukan penutur asli dalam kira-kira satu dasawarsa terakhir. Brown juga berpendapat bahwa jika lembaga-lembaga pendidikan dan politik di berbagai negara menjadi lebih peka terhadap pentingnya pengajaran bahasa asing untuk tujuan komunikatif (bukan sekedar untuk memenuhi “persyaratan” atau “lulus tes”), barangkali kita akan lebih mampu mewujudkan tujuan-tujuan pengajaran bahasa komunikatif.
Total Physical Response
Total Physical Response, dapat juga disebut juga perluasan dari English Through Action yang dipelopori oleh Palmer & Palmer. Namun semua metode yang pernah digunakan terus berkembang seiring zaman, ada yang disempurnakan, ada bagian yang diambil, ada yang disempurnakan, termasuk metode TPR yang diperbaharui dengan mengacu kepada teori psikologi yang lebih mutakhir. Hal ini juga menjadi lebih popular karena dukungan yang menekankan pada peran pemahaman dalam akuisisi bahasa kedua. Asher (1977) pun menekankan bahwa harus ada asosiasi yang dilakukan dengan metode atau teknik lainnya agar menjadi lebih efektif.


References
Asher, J. (1977). Learning Another Language Through Actions: The Complete Teacher’s Guide Book. Los Catos, California: Sky Oaks Productions.

Aziez, F., & Alwasilah, C. (1996). Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Brown, H. Douglas. (2007). Principles of Language Teaching and Learning, Fifth Edition. New York: Pearson Education, Inc.

Iskandarwassid & Sunendar, Dadang. (2008). Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Krashen, Stephen D. (1982). Principles and Practice of Second Language Acquisition. Pergamon Press Inc.

Larsen-Freeman, Diane. (1986). Techniques and Principle in Language Teaching. Oxford, UK: Oxford University Press, Inc.

Larsen-Freeman, Diane. (2001). Techniques and Principle in Language Teaching. Oxford, UK: Oxford University Press, Inc.

Littlewood, William (1981). Communicative Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press

Nunan, David. (1989). Designing Tasks for the Communicative Classroom. Cambridge: Cambridge University Press

            Richards, J., & Rodgers, T. (2001). Approaches and Methods in Language Teaching.
                        Cambridge, UK: Cambridge University Press.




[1] lebih lanjut mengenai ‘kompetensi komunikatif’ dapat ditemukan di Brown (2007: 218-222)

No comments:

Post a Comment